Paradoks Emosi: Memahami Mekanisme Psikologis di Balik Ekspresi Manusia yang Kontradiktif

Table of Contents


Paradoks adalah pernyataan atau situasi yang terlihat bertentangan secara logika atau bertentangan dengan akal sehat, namun ketika kita telaah lebih dalam lagi akan muncul keterkaitan antara fakta dengan kebenaran. Layaknya paradoks emosi pada manusia yang menunjukkan ekspresi terdalam sering menunjukkan hal yang berlawanan. 

Paradoks emosi manusia, puncak kesedihan adalah tertawa, puncak kebahagiaan adalah menangis, dan puncak kemarahan adalah diam

Dalam psikologi ini berkaitan dengan emotional everflow yang mana kondisi ketika intensitas emosi seseorang mencapai puncaknya sehingga otak menyalurkannya dengan respon yang paling mampu menyetabilkan sistem saraf.

Tertawa saat sedih atau menangis saat bahagia merupakan contoh dari paradoks emosi yang mana ini dijelaskan melalui affective release. Ketika emosi memuncak, tubuh membutuhkan pelepasan fisiologis sebab tangis menurunkan ketegangan saraf, sementara tertawa bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk mencegah runtuhnya emosi, dan diam pada saat marah merupakan penanda emotional inhibition, yaitu fase ketika seseorang menahan respons implusif karena otak sedang berusaha mengontrol potensi kerusakan sosial atau personal.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa ekspresi emosi tidak selalu linear atau logis. pada intensitas tertentu, otak lebih mempropritaskan regulasi dari pada ekspresi yang sesuai. Hal inilah yang menyebabkan emosi terdalam sering terlihat membingungkan bagi orang lain.

Memahami paradoks emosi membantu kita lebih empatik baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain sebab tidak semua tawa merupakan kebahagiaan, dan tidak semua tangisan merupakan kelemahan dan tidak semua diam itu adalah ketidak pedulian.

Posting Komentar