Menghidupkan Akar Pendidikan: Antara Kesadaran, Amal, dan Pertumbuhan
Table of Contents
K.H. Ahmad Dahlan berpendapat "pendidikan hendaknya bisa menjadi tempat trasfer ilmu dan menjadi tempat untuk menyadarkan dan mengamalkan ilmu". Sebab pendidikan bukanlah sekedar wadah untuk pengembangan kemampuan kognitif, lebih dari itu pendidikan hendaknya menjadi wadah untuk pendidik dan peserta didik saling tumbuh dan berkembang.
Pandangan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menegaskan bahwa muara dari pendidikan adalah amal. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah. Dalam konteks sekolah dasar misalnya, hal ini berarti proses belajar tidak boleh berhenti di dalam buku catatan atau lembar ujian semata. Pendidikan hendaknya juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik, sehingga setiap teori yang siswa pelajari dapat bertrasformasi menjadi karakter dan kebiasaan baik (berakhlak karimah).
Pendidikan yang merupakan ruang kolaborasi, bukan instruksi ketika kita memandang sekolah sebagai tempat untuk saling tumbuh, makaa peran guru bergeser dari penguasa kelas menjadi fasilitator sekaligus pembelajar sepanjang masa. Di sini, terjadi dialog antara pendidik dan peserta didik. Saat peserta didik belajar tentang kejujuran, maka pendidik juga belajar untuk konsisten dalam memberikan teladan. Saat peserta didik belajar untuk memecahkan masalah maka guru belajar untuk lebih bersabar dan kreatif dalam merancang strategi pembelajaran.
Menghidupkan ilmu dalam perencanaan pembelajaran sebagai praktisi, hendaknya kita perlu merefleksikan kembali "apakah modul ajar yang telah kita buat sudah memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyadari manfaat dari ilmu apa yang diajarkan?" Pendidikan yang memanusiakan manusia semestinya memastikan bahwa:
- Kognitif diasah untuk memahami "mengapa" ilmu itu penting.
- Kesadaran dibangun agar siswa merasa memiliki ilmu tersebut.
- amal diwujudkan dalam aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
.png)
Posting Komentar