Pendidikan: Memerdekakan atau Menjinakkan

Table of Contents

Apakah sistem pendidikan masa kini masih membuat kita untuk takut salah, gagal, dan takut untuk berpikir bebas?


Tepat seratus Tahun yang lalu ada seorang tokoh yang tinggal di Yogyakarta membantah perihal tersebut. Ia mengatakan bahwa "Pendidikan bukan untuk menjinakkan manusia, namun pendidikan adalah wadah untuk melepaska belenggu".

Kala itu bangsa Indonesia masih terbelengguh akan 3 hal yaitu kolonialisme, kebodohan, dan pemahaman agama yang kolot. Para pemuda masa itu dihadapkan pada dua pilihan dalam menempuh pendidikan yaitu masuk pada sekolah belanda dan tidak memiliki bekal ilmu agama atau masuk di pondokan dan tertinggal akan realitas.

Tokoh ini melihat ini sebagai perangkap atau belengguh lalu memutuskan untuk membuat jalan baru atau pilihan ketiga yaitu memadukan kedua hal tersebut yaitu sekolah belanda dan pondok. Dari ruang tamu di rumahnya ia rombak menjadi kelas belajar, dan memasukkan pelajaran matematika dan sains, bahasa belanda ke dalam kurikulum pendidikan yang ia buat.

Apakah lantas masyarakat mampu menerima perbedaan tersebut saat itu? jelas tidak, sebab ia mendapat cemoohan dari para ulama masa itu. di dalam kelas ia mengajarkan surah al-Maun sambil menyantuni anak yatim, bukan sekedar menghafal namun juga menunjukkan aksi.

Beliau mencari siswa tidak hanya mengunggu di rumah semata. Namun juga mendatangi setiap pasar, penjara, bahkan menjelajahi desa untuk mengajari mereka. Gerakan ini disebut sebagai gerakan pembebasan dari kebodohan dan kolonialisme.

Ya beliau adalah KH. Ahmad Dahlan tokoh pendiri gerakan Muhammadiyah, bayangkan pada masa itu seroang kiyai berjalan sendiri menjelajahi desa-desa, menawarkan ilmu gratis. Bukan untuk mencari murit namun untuk menciptakan pemimpin, tidak sekedar mengajar namun beliau menyadarkan dan membangkitkan. Beliau percaya bahwa apabila anak masih miskin dan bodoh bangsa ini akan selalu terjajah meski Negeri ini sudah merdeka.

K.H. Ahmad Fahlan tidak hanya berbicara soal pendidikan. Namun juga berbicara terkait keadilan, hak orang miskin untuk berfikir, hak perempuan untuk belajar, hak anak desa untuk menjadi pemimpin, dan ia mengatakan pendidikan bukan hanya menjadikan orang menjadi pintarm namun sekolah harus menjadikan orang untuk berani, yaitu berani untuk salah ban berani bertanya dan bertanggung jawab dengan cara memperbaiki kesalahan yang ia perbuat.

Satu abad telah berlalu, pertanyaan itu kembali pada sela-sela kemajuan teknologi yaitu "Apakah pendidikan kita hari ini sudah benar-benar memberikan kebebasan, atau malah menciptakan belenggu yang lebih luar biasa lagi, layaknya robot-robot yang hanya diberikan perintah minim sehingga untuk mengerjakan apa yang diluar garis ia akan takut untuk melangkah bahkan enggan".

Posting Komentar