Adab Sebelum Ilmu: Menjadi Guru Idola melalui Integritas dan Keteladana
Table of Contents
Seperti apa yang sudah saya bahas sebelumnya terkait pribahasa yang berbunyi "guru kencing berdiri murid kencing berlari" di dalam tulisan yang berjudul Menagih Marwah Pendidik di Tenggah Arus Trasformasi ini bukan hanya mengambarkan suatu hal yang negatif saja. Namun, memiliki makna yang luar bila kita tafsirkan dengan pandangan yang luas, layaknya seorang guru apabila memberikan contoh yang positif maka siswa akan mencontoh dan melakukan hal positif dua kalilipat dari apa yang dicontohkan oleh seorang guru.
Dan sebaliknya saat guru memberikan contoh yang negatif maka akan sangat besar potensinya murid akan melakukan hal negatif lainnya. Semua ini bisa menjadi rantai sifat dan prilaku yang berkelanjutan sampai ada diantara kita yang memutus rantai negatif tersebut.
Tapi dari semua itu maka timbul pertanyaan baru dalam benak saya yaitu, mana yang lebih penting beradab atau berilmu? Mengutip dari apa yang pernah disampaikan oleh Syeh Abdul Qadir al-Jailani yang berbunyi "Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis lebih tinggi ilmunya daripada manusia".
Pernyataan tersebut mengisyaratkan apabila manusia hanya berilmu tanpa memiliki adab yang baik maka apabedanya manusia tersebut dengan iblis, apabila hanya memiliki ilmu yang tinggi Iblis pun memiliki ilmu yang tinggi. Sebab ilmu yang tidak dibarengi oleh adab akan menjadi bumerang.
Menjawab permasalahan kita akhir-akhir ini dalam dunia pendidikan yang mana banyak yang berpendapat terkait peserta didik yang kurang beradab saat berada didalam kelas, dan lingkungan sekolah. Ada beberapa hal yang perlu kita pastikan kembali apakah, kita sebagai pendidik sudah menjadi teladan yang baik bagi. Lalu apakah kita sudah menciptakan lingkungan yang baik pula, sebab dalam mendidik tidak hanya sekolah yang harus berjuang mendidik namun juga seluruh elemen pendidikan.
Guru sebagai fasilitator dan teladan, orang tua dan orang yang lebih dewasa dirumah juga harus menjadi contoh dan kontrol dalam mendidik anak sebab tanpa adanya kaloborasi dari pihak sekolah dan orang tua siswa, tercapainya tujuan pendidikan yaitu "peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab".
Akan menjadi sangat sulit sebab, apabila sekolah sudah menjadi contoh dan fasilitator dalam mendidik dan rumah atau lingkungan tidak sejalan maka anak akan mengalami kebingungan dan memilih mana pengaruh yang kuat antara lingkungan bermain (rumah dan masyarakat) dan sekolah.
Sebelum saya menutup tulisan saya kali ini perlu kita ingat dan ketahui menjadi guru idola tidak harus selalu menyenangkan siswa (Permisif), melainkan menjadi sosok yang disegani karena integritasnya.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar transfer informasi dari buku ke memori, melainkan transfer nilai dari hati ke perilaku. Jika sekolah dan rumah sudah bersinergi memutus rantai negatif dan mengedepankan adab di atas ilmu, maka tujuan pendidikan nasional bukan lagi sekadar teks di atas kertas, melainkan wujud nyata pada karakter generasi masa depan.
.png)
Posting Komentar